Rasanya baru aja kita merayakan pesta demokrasi pemilu tahun 2004, tanpa terasa sekarang kita sudah dihadapkan dengan pemilu tahun 2009. Mungkin karena nggak terlalu banyak perubahan yang terjadi setelah pemilu tahun 2004, jadi ada pemilu atau tidak, tetap aja negara kita seperti jalan di tempat. Cari kerja masih tetap susah, harga-harga kebutuhan masih tetap mahal, pendidikan juga masih tetap mahal, serta segudang permasalahan yang tidak pernah tuntas sampai sekarang.

Masih tetap seperti pemilu sebelumnya, pemilu tahun ini masih diwarnai dengan janji-janji manis para calon partai politik (parpol) ataupun calon legislatif (caleg). Dengan berbagai macam kreasi baliho, poster sampai stiker. Tentunya dengan macam-macam slogan yang diantaranya “mohon doa dan dukungannya”, “kami tidak memberikan janji”, “sahabat semua golongan”, “yang penting rakyat tidak miskin”. Tanpa adanya visi dan misi bila terpilih menjadi anggota legislatif, karena dengan adanya visi dan misi para caleg tersebut akan lebih mempermudah rakyat untuk memilih caleg dengan visi dan misi yang lebih realistis.

Nah…nggak mau ketinggalan pula banyak parpol yang membuat iklan di televisi yang menurutku salah satu bentuk pembodohan kepada masyarakat. Pada nonton nggak…iklan tentang turunnya harga BBM dimana seorang pria berkomentar harga BBM turun sampai 3 kali dan mencapai harga Rp. 4.500/liter. Tapi langsung dipotong seorang wanita kalau harga BBM dizaman ibu Mega Rp. 2.000/liter. Memangnya begitu terpilih harga BBM bisa langsung turun menjadi Rp. 2.000/liter? Tapi bagaimana cara menurunkan harga BBM tidak dijelaskan. Ditinjau dari segi ekonomi, menurunkan harga BBM tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ada lagi iklan 3 parpol yang sekarang berkuasa di pemerintahan yang mengklaim partainya berhasil melakukan swasembada beras. Tidak penting siapa yang benar-benar berhasil melakukan swasembada beras. Karena walaupun dikatakan mereka berhasil dengan swasembada berasnya, tetap saja banyak rakyat yang masih kelaparan.

Yang lebih hebatnya lagi para caleg rela menghabiskan uang demi kemenangannya dipemilu tahun ini., jumlahnya ada yang mencapai ratusan juta. Bisa terbayang nggak, bagaimana jadinya kalau ternyata sang caleg tidak terpilih? Bisa saja penyakit gangguan kejiwaan menghinggapinya. Bayangkan juga apa saja yang dilakukan kalau saja sang caleg terpilih menjadi anggota legislatif? Yang pastinya apapun akan dilakukan untuk mencapai titik Break Even Point (titik balik modal).

Beginilah calon legislatif di negeri ini, mudah-mudahan masih ada caleg yang benar-benar berjuang demi kepentingan rakyat.

Ada juga cerita para caleg di kota tempat aku bekerja. Dimana sebagian warga yang sudah kenal caleg tersebut mengatakan bahwa caleg tersebut rada nggak beres dengan kehidupannya. Warga bilang sih… dia itu dari dulu maling..!!! Abangnya aja sampai sekarang masih dipenjara karena kasus narkoba. Entah benar atau tidak?

Ada lagi nih…caleg DPR RI , yang tidak pernah barada di rumah dan alasan mertuanya sedang berada di Jakarta . Nggak tahu jelas dimana pasti keberadaannya, nggak tahu nomor handphone/telepon yang bisa dihubungi. Rumahnya besar dan megah walaupun masih dalam tahap pembangunan, tapi angsuran/cicilan sepeda motornya menunggak 5 bulan (terhitung tulisan ini di buat), maklum nih…karena aku kerja di salah satu perusahaan pembiayaan/leasing sepeda motor…he…he..he.

Terkadang sering kepikiran, apa benar sih…kalau satu suara akan menentukan nasib bangsa? Atau lebih baik tidak memilih alias golput (golongan putih). Bagaimana tidak kalau parpol ataupun calegnya seperti beberapa cerita di atas?

Tanpa bermaksud untuk menghasut agar rakyat tidak memilih (golput), kita hanya ingin agar pemilu kali ini serta pemilu seterusnya dihuni oleh pemilih-pemilih yang cerdas. Tentunya cerdas memilih parpol ataupun caleg dengan visi dan misi yang lebih realistis dan tidak membodohi rakyat dengan janji-janji manisnya. Maka jadilah pemilih yang cerdas!!! Selamat menyambut pesta demokrasi Indonesia !!!

ardo_ank@yahoo.com

Bookmark and Share